
Jatinangor, 6 September 2025 — Kebakaran rumah tangga masih menjadi ancaman serius. Sering kali berawal dari kelalaian kecil, seperti listrik berlebih, kompor gas bocor, atau puntung rokok yang dibuang sembarangan. Sayangnya, banyak masyarakat belum memahami langkah pencegahan maupun penanganan darurat saat api mulai muncul.
Sebagai upaya membekali perempuan desa dengan keterampilan siaga bencana, Sekolah Perempuan Permata Siaga menggelar pertemuan kelima pada Sabtu, 6 September 2025, di Masjid Al-Mukaromah RW 13, Dusun Mekarasih, Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor. Kegiatan ini menghadirkan Tim Pemadam Kebakaran Kabupaten Sumedang sebagai narasumber utama.
Dalam sesi materi “Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran”, peserta diperkenalkan pada segitiga api: bahan bakar, oksigen, dan sumber panas, yang jika ketiganya bertemu akan menimbulkan kebakaran. Lebih jauh, tim Damkar menjelaskan jenis-jenis kebakaran dan cara pemadaman yang tepat sesuai sumbernya. Peserta juga diajak melihat langsung simulasi penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan), serta praktik darurat menggunakan handuk basah untuk memadamkan api kecil di dapur.
“Alhamdulillah, ibu-ibu dapat menyerap teori maupun praktik dengan baik, bahkan semua sudah mencoba langsung. Kini ibu-ibu sudah lebih siaga untuk menghadapi kemungkinan kebakaran.” ucap Arifin Rachmat Sugiantoro, S. IP selaku Kepala UPT Pemadam Kebakaran Wilayah Sumedang Kota.
Sebagai pelengkap dari sesi Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran, Tim Permata Siaga memandu fasil time tentang penanganan luka bakar, yang merupakan cedera paling sering terjadi ketika kebakaran maupun aktivitas dapur. Melalui praktik ini, peserta tidak hanya memahami teori pencegahan kebakaran dari Damkar, tetapi juga dibekali keterampilan pertolongan pertama luka bakar yang relevan dengan kondisi sehari-hari di rumah.
Suasana kegiatan semakin hidup ketika peserta berbagi pengalaman nyata, mulai dari kebocoran gas di rumah hingga cara mereka biasanya menghadapi api. Dari cerita itu, tim Damkar menekankan kembali kesalahan umum masyarakat, seperti mencoba memadamkan minyak terbakar dengan air, panik berlari tanpa arah, hingga penggunaan gas LPG tanpa pemeriksaan rutin. Banyak warga kerap menyalakan kompor meski mencium bau gas, tidak memeriksa kondisi regulator dan selang, atau menempatkan tabung gas terlalu dekat dengan sumber panas. Kebiasaan ini berisiko besar memicu ledakan dan kebakaran.
Hasil evaluasi pre–post test menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terkait langkah pencegahan dan penanganan kebakaran. Dengan pengetahuan ini, perempuan di Desa Hegarmanah diharapkan mampu menjadi agen siaga kebakaran bagi keluarga dan lingkungannya.
Program ini mendukung pencapaian serta memperkuat peran perempuan (SDG 5) dan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) dalam menjaga ketangguhan komunitas terhadap risiko bencana.
Leave a Reply