
Bandung, 26 Oktober 2025 – Putri (bukan nama sebenarnya), anak berusia empat tahun, memiliki keberanian yang muncul mengikuti suasana hatinya. Saat perasaannya sedang nyaman, Putri dapat tampil ceria, mudah tersenyum, cepat akrab dengan orang baru, dan berani mencoba hal-hal baru. Namun, ketika rasa tidak nyaman muncul, Putri cenderung memilih diam dan menjaga jarak.
Hari itu, Putri datang ke Rumah Kanker Ambu untuk mengikuti kegiatan edukasi dan bermain LEGO MRI, sebuah program dari CALM MRI yang bertujuan membantu anak mengenal prosedur MRI dengan cara yang ramah dan menyenangkan. Saat pertama kali memasuki area kegiatan, Putri tampak takut dan malu-malu. Ia berdiri rapat di samping ibunya, memegang erat lengan sang ibu, dan enggan melangkah lebih dekat. Tatapannya ragu, seolah ingin ikut namun belum siap. Melihat hal tersebut, fasilitator permainan memilih pendekatan yang lembut. Ia duduk di lantai, menjaga jarak, lalu menunjukkan set LEGO MRI sambil berkata pelan, “Tidak apa-apa, Putri. Lihat dulu saja. Ini mainan Lego yang nanti kita susun bersama.”
Putri hanya mengangguk kecil. Namun ketika fasilitator mulai memperlihatkan bagian-bagian LEGO MRI—seperti tempat tidur kecil dan “mesin MRI” berbentuk lingkaran—mata Putri mulai melirik. Rasa penasaran perlahan muncul, menggantikan rasa takut yang semula mendominasi.
Beberapa menit kemudian, fasilitator menyodorkan satu balok kecil LEGO dan bertanya dengan hati-hati apakah Putri ingin mencoba memasangnya. Putri tidak langsung mengambilnya. Ia memperhatikan balok tersebut sejenak, lalu melangkah sedikit lebih dekat. Saat akhirnya balok itu berada ditangannya dan berhasil dipasangkan, ekspresi wajahnya berubah. Putri tersenyum kecil, terlihat lebih nyaman dan mulai percaya diri.
Perlahan, Putri mulai terlibat lebih aktif memindahkan boneka mini ke “tempat tidur MRI,” memasang balok warna-warni, serta ikut menentukan bagian yang ingin dipasang lebih dulu. Fasilitator tersenyum melihat perubahan Putri. Dari anak yang awalnya takut dan malu-malu, Putri berubah menjadi anak yang ikut bermain dengan penuh semangat. Ia mengambil balok sendiri, mencoba membangun bagian yang lebih sulit, dan bahkan memanggil ibunya dengan suara ceria.
Di akhir kegiatan, Putri tampak benar-benar nyaman dan percaya diri. Ia duduk di barisan depan, asyik bermain dengan LEGO MRI, dan dengan berani mengangkat tangan untuk menjadi relawan saat fasilitator mengajak peserta melakukan role play “bermain patung” mengikuti aba-aba. Keberaniannya berdiri di depan dan terlibat aktif menjadi kontras yang jelas dibandingkan sikapnya saat pertama kali datang. Senyum kecil yang menghiasi wajah Putri mencerminkan rasa bangga terhadap dirinya sendiri. Melalui permainan sederhana dan ramah anak, Putri mulai mengenal dan menghadapi hal yang sebelumnya terasa menakutkan. Pendekatan ini menjadi langkah kecil namun bermakna dalam membangun kesiapan psikologis anak untuk menghadapi pengalaman pemeriksaan MRI di masa depan.

Kegiatan edukasi melalui permainan LEGO MRI ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, dengan menekankan pentingnya kesehatan dan kesejahteraan anak selama proses perawatan dan pemeriksaan medis. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui pendekatan pembelajaran yang inklusif, aman, dan ramah anak, serta SDG 10: Mengurangi Ketimpangan, dengan memberikan dukungan psikososial yang setara bagi anak-anak yang menghadapi kondisi kesehatan khusus. Upaya ini diharapkan dapat berkontribusi dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang lebih humanis dan berorientasi pada kebutuhan anak. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran dengan dukungan dari ASEAN Foundation. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari komitmen institusi dalam menghadirkan layanan edukasi dan kesehatan anak yang humanis, inklusif, dan berkelanjutan, melalui pendekatan edukatif berbasis permainan yang berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
Leave a Reply